082125782316 konservasikembarterpadu@gmail.com
Semangat Pelestarian Seni dan Budaya di Pantai Kembar Terpadu Kebumen

Semangat Pelestarian Seni dan Budaya di Pantai Kembar Terpadu Kebumen

Di tengah derasnya arus globalisasi, budaya lokal yang menjadi jati diri suatu daerah semakin tergerus oleh zaman. Bukan hanya karena pengaruh budaya pop dan teknologi digital yang menggoda, namun juga akibat kurangnya penerus yang mampu menjaga dan melestarikan tradisi. Desa Tambakmulyo, khususnya di Dusun Kembar Pantai Kembar Terpadu, menjadi saksi bisu dari perjalanan berat pelestarian budaya lokal yang semakin terpinggirkan.

 

Tokoh Kesenian dan Tantangan Generasi Penerus di Pantai Kembar Terpadu

Di Pantai Kembar Terpadu, terdapat seorang tokoh seni yang telah mengabdikan dirinya sejak tahun 90-an, Mbah Tarso. Beliau, dengan penuh dedikasi, telah mengajarkan seni dan budaya tradisional kepada generasi muda. Namun, meskipun sudah berusaha keras, Mbah Tarso mengungkapkan kesedihannya karena sangat sulit untuk menemukan generasi penerus yang mau melanjutkan perjuangannya. Seni tradisional yang dulu begitu hidup, kini perlahan memudar, seiring dengan berkurangnya minat generasi muda untuk mendalami budaya mereka.

Generasi muda, yang lebih tertarik pada tren hiburan digital dan budaya pop global, sering kali menganggap budaya tradisional sebagai sesuatu yang ketinggalan zaman. Akibatnya, banyak tradisi yang mulai kehilangan tempat di hati mereka, dan perlahan-lahan menghilang tanpa ada yang berusaha untuk melestarikannya. Inilah kenyataan yang dihadapi oleh Mbah Tarso dan banyak pejuang budaya lainnya di Desa Tambakmulyo, sebuah masalah yang tidak hanya terjadi di daerah ini, tetapi di banyak tempat di daerah Kabupaten Kebumen

Minimnya Dukungan Masyarakat dan Pemerintah

Selain masalah generasi penerus, masyarakat dan pemerintah juga memegang peranan penting dalam kelangsungan budaya lokal. Mbah Tarso menceritakan betapa sulitnya memperoleh dukungan dari orang tua murid dan pemerintah selama bertahun-tahun. Banyak orang tua yang tidak melihat pentingnya pendidikan seni tradisional, bahkan terkadang mengkritik upayanya untuk mengajarkan anak-anak mereka tentang budaya lokal.

Ironisnya, meskipun sanggar atau acara seni tradisional diadakan dengan penuh semangat, dukungan dari pemerintah daerah sangat minim. Alih-alih mendukung program pelestarian budaya, pemerintah lebih memilih mengalokasikan anggaran untuk proyek yang dianggap lebih menguntungkan secara finansial. Hal ini membuat budaya lokal yang berusia ratusan tahun semakin terlupakan. Apa yang seharusnya menjadi kebanggaan bangsa, malah dianggap sebagai beban yang tidak bernilai. Keadaan ini semakin memperburuk kondisi pelestarian budaya di Desa Tambakmulyo, khususnya di Dusun Kembar.

Semangat di Pantai Kembar Terpadu Untuk melestarikan Budaya

Namun, meskipun tantangan besar menghadang, harapan tidak sepenuhnya hilang. Pantai Kembar Terpadu, bersama dengan masyarakat setempat, bertekad untuk menghidupkan kembali budaya lokal yang telah terpinggirkan. Salah satu langkah konkret yang diambil adalah dengan menggelar program “Konservasi Seni dan Budaya”. Dalam program ini, para pegiat seni lokal, termasuk Mbah Tarso, diundang untuk bergabung dalam kampanye pelestarian budaya.

Salah satu bentuk upaya pelestarian adalah dengan melibatkan anak-anak sanggar Mbah Tarso untuk menampilkan kesenian tradisional yang mereka pelajari. Penampilan ini diharapkan dapat menginspirasi masyarakat, terutama generasi muda, untuk lebih mencintai dan melestarikan budaya tradisional mereka. Kami percaya bahwa dengan melibatkan komunitas lokal, kita dapat membangkitkan kembali semangat cinta budaya yang dulu pernah hidup di Desa Tambakmulyo.

 

Pelestarian budaya lokal bukanlah tanggung jawab satu pihak saja. Kami percaya bahwa jika bukan kita, siapa lagi yang akan menjaga dan melestarikan budaya ini? Melalui upaya bersama, kita dapat menghidupkan kembali seni dan budaya tradisional yang ada di Pantai Kembar Terpadu dan di seluruh Indonesia.

Mari kita jaga bersama-sama kebudayaan yang sudah ada, dengan menggali nilai-nilai sejarah dan tradisi yang terkandung di dalamnya. Melalui pendidikan seni, pengembangan budaya lokal, dan dukungan penuh dari masyarakat serta pemerintah, kita bisa memastikan bahwa budaya lokal tidak hanya akan bertahan, tetapi juga berkembang di tengah perubahan zaman yang begitu cepat. Semangat melestarikan budaya lokal harus tumbuh dalam setiap lapisan masyarakat, terutama di kalangan generasi muda yang menjadi harapan masa depan bangsa.

Pantai Kembar Terpadu dan Desa Tambakmulyo adalah contoh nyata bahwa pelestarian budaya lokal tidaklah mustahil. Dengan kolaborasi dan niat yang tulus, kita dapat memastikan bahwa budaya kita akan terus hidup dan berkembang untuk generasi yang akan datang.

Pantai Kembar Terpadu : Rumah Bagi Lima Jenis Penyu

Pantai Kembar Terpadu : Rumah Bagi Lima Jenis Penyu

Konservasi Pantai Kembar Terpadu di Kebumen bukan hanya menjadi tempat edukasi, tetapi juga memiliki peran penting sebagai rumah sementara bagi penyu-penyu langka yang singgah. Wilayah pesisir ini memiliki daya tarik luar biasa bagi penyu-penyu laut, mengingat kelima jenis penyu yang terdeteksi di kawasan ini merupakan spesies yang dilindungi. Di antaranya adalah Penyu Belimbing, Penyu Hijau, Penyu Sisik, Penyu Tempayan, dan Penyu Lekang. Kelima jenis penyu ini datang ke Pantai Kembar, memperlihatkan bahwa kawasan ini adalah jalur migrasi alami dan habitat yang sangat penting bagi kelangsungan hidup mereka.

Pantai Kembar Terpadu tercatat sebagai lokasi yang sering didatangi oleh Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea), spesies yang menjadi salah satu fokus utama dalam konservasi di kawasan ini. Sejak didirikan pada tahun 2020, konservasi ini berfokus pada upaya perlindungan dan pelestarian Penyu Lekang, yang sangat bergantung pada pesisir Kebumen untuk bertelur. Kegiatan utama konservasi meliputi penetasan telur, pelepasan tukik, serta edukasi kepada masyarakat dan pelajar tentang pentingnya menjaga penyu serta ekosistem pesisir.

Selain Penyu Lekang, Pantai Kembar juga aktif dalam konservasi Penyu Hijau dan Penyu Sisik. Penyu Hijau diketahui mulai bertelur di kawasan ini pada tahun 2021, sedangkan Penyu Sisik pertama kali terlihat menetas pada tahun yang sama. Kedua spesies ini, bersama dengan Penyu Lekang, menjadi bagian dari upaya konservasi yang tak hanya berfokus pada perlindungan spesies tersebut, tetapi juga pada keberlanjutan seluruh ekosistem laut yang mendukung kehidupan mereka.

Melalui kerja sama dengan masyarakat lokal, Konservasi Pantai Kembar Terpadu berkomitmen untuk menjaga kelestarian penyu dan lingkungan sekitarnya. Setiap penyu yang berhasil menetas dan kembali ke laut membawa harapan baru bagi keseimbangan ekosistem laut. Konservasi ini tidak hanya melindungi penyu, tetapi juga mengedukasi masyarakat untuk lebih sadar akan pentingnya menjaga habitat alami mereka, menjadikan Pantai Kembar Terpadu sebagai rumah aman bagi penyu-penyu yang setia kembali ke tempat kelahiran mereka.
Tiga Jenis Rumput Penjaga Pesisir

Tiga Jenis Rumput Penjaga Pesisir

TAMBAKMULYO, PURING — Di kawasan Pantai Kembar Terpadu, penataan ruang hijau dilakukan dengan pendekatan ekologis yang terencana. Bukan hanya jalur cemara, trek kuda, atau area aktivitas wisata yang mendapatkan perhatian. Tepian pantainya dibiarkan ditumbuhi berbagai rumput pesisir yang kerap dikira tanaman liar tanpa fungsi.

Padahal, vegetasi kecil inilah yang berperan sebagai “penjaga tak terlihat” yang menahan pasir dari tergerus ombak dan angin laut. Di tengah meningkatnya risiko abrasi di berbagai kawasan pesisir Indonesia, kehadiran rumput-rumput ini menjadi bagian penting dari strategi alami perlindungan kawasan Pantai Kembar Kebumen.

Berikut tiga jenis rumput pesisir yang menjadi komponen penting dalam Konservasi Kembar Terpadu

1. Klorak (Ipomoea pes-caprae)


Klorak atau yang dikenal sebagai katang-katang merupakan tanaman menjalar dari famili Convolvulaceae yang mampu tumbuh hingga panjang 30 meter. Batangnya yang lentur dan bercabang membentuk anyaman alami yang menahan pasir agar tidak mudah berpindah.
Di Pantai Kembar Terpadu, tumbuhan ini dipertahankan sebagai garis pertahanan pertama terhadap abrasi. Akar serabutnya yang kuat menstabilkan struktur pasir, sementara daun dan bunganya memberi sentuhan alami pada lanskap pantai.

2. Kerandan (Canavalia maritima)

Kerandan atau kacang pantai kerap disamakan bentuknya dengan klorak. Manfaat ekologisnya pun serupa mengikat pasir, menahan angin, serta memperkaya substrat pantai.

Keistimewaan tanaman ini tidak hanya pada kemampuannya melindungi pesisir. Bunga kerandan ternyata dapat dikonsumsi dan mengandung serat tinggi serta vitamin B kompleks, seperti asam folat, niasin (B3), tiamin (B1), piridoksin (B6), dan riboflavin (B2). Kehadirannya semakin menegaskan bahwa ekosistem pesisir menyimpan potensi pangan yang jarang diketahui.

3. Rumput Lari-lari (Spinifex littoreus)

Masyarakat Kembar Terpadu menyebutnya jantran, namun dikenal secara ilmiah sebagai Spinifex littoreus. Ketika tertiup angin, rumpunnya yang bulat tampak “berlari”, sehingga muncullah sebutan rumput lari-lari.

Terlepas dari kesan unik tersebut, rumput ini sangat penting bagi stabilitas pantai. Ia mampu bertahan pada tanah berpasir yang miskin unsur hara dan memiliki kadar garam tinggi. Akarnya menancap kuat, menyatukan butiran pasir, sekaligus mengurangi risiko abrasi. Di beberapa daerah, termasuk Pantai Kembar Kebumen, rumput ini bahkan menjadi bagian dari permainan tradisional anak-anak nelayan.

Keberadaan tiga jenis vegetasi liar ini menunjukkan bahwa alam memiliki mekanisme pertahanannya sendiri. Klorak, kerandan, dan rumput lari-lari bekerja tanpa henti menjaga keseimbangan ekosistem, memperkuat garis pantai, dan memelihara kehidupan di kawasan pesisir.

Upaya mempertahankan vegetasi kecil di Pantai Kembar Terpadu bukan sekadar bagian dari estetika ruang hijau. Itu merupakan bentuk kepedulian terhadap konservasi berkelanjutan, bahwa pelestarian tidak selalu harus dimulai dari hal besar. Terkadang, cukup dari menjaga rumput liar yang sering diabaikan, tetapi sesungguhnya memegang peranan penting bagi masa depan ekosistem pantai.

Pantai Kembar Terpadu: Kawasan Konservasi, Edukasi & Budaya di Pesisir Kebumen

Pantai Kembar Terpadu: Kawasan Konservasi, Edukasi & Budaya di Pesisir Kebumen

Pantai Kembar Terpadu yang terletak di Desa Tambakmulyo, Kecamatan Puring, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, kini menjadi destinasi unik yang memadukan keindahan alam, konservasi satwa langka, dan pelestarian budaya lokal. Kawasan ini bukan sekadar pantai wisata biasa — “Kembar” diambil dari nama dukuh tempatnya berada, sedangkan “Terpadu” mencerminkan sinergi antara masyarakat, alam, dan ekonomi lokal. Awal mula kawasan ini berawal dari Kelompok Tani Ngudimulyo yang berdiri pada tahun 1982. Kelompok ini aktif di bidang pertanian hortikultura, perkebunan, peternakan, dan perikanan. Setelah mendapat wewenang mengelola lahan pesisir bebas dari bibir pantai hingga batas tanah warga, kawasan kemudian direorganisasi pada tahun 2015 menjadi badan hukum yang mengelola Pantai Kembar Terpadu sebagai kawasan konservasi, edukasi, dan budaya.

Konservasi Penyu: Ikon Utama Kawasan

Salah satu daya tarik utama pantai ini adalah program konservasi penyu. Kawasan ini menjadi habitat bagi beberapa jenis penyu seperti penyu sisik, penyu hijau, dan penyu lekang. Kegiatan konservasi mencakup patroli malam untuk menemukan lokasi peneluran, penetasan telur, serta pelepasan tukik ke laut — menjadi pengalaman edukasi interaktif bagi pengunjung dan masyarakat lokal.

Wisata Edukatif dan Ramah Lingkungan

Pantai Kembar Terpadu menawarkan lebih dari sekadar wisata bahari. Pengunjung dapat menikmati suasana pasir hitam yang khas, rindangnya pepohonan cemara laut, kuliner lokal, hingga fasilitas edukasi terbuka. Kawasan ini juga menerapkan sistem tanpa tiket masuk dan hanya meminta jasa parkir secara sukarela — sebuah praktik pariwisata berbasis masyarakat dan konservasi.

Dampak Positif Kawasan

    • Lingkungan pesisir lebih terjaga dan bersih — pengunjung dan pengelola bersama-sama menjaga kebersihan pantai.
    • Pemberdayaan ekonomi lokal — melalui warung kuliner, edukasi, dan kegiatan konservasi yang melibatkan masyarakat setempat.
    • Edukasi generasi muda — melalui program pelepasan tukik dan kegiatan lapangan yang menumbuhkan kesadaran menjaga alam.

Akses dan Fasilitas

Lokasi Pantai Kembar Terpadu mudah dijangkau dan memiliki akses jalan yang baik. Fasilitas yang tersedia meliputi area parkir luas, warung makan, saung, toilet umum, dan spot foto menarik. Tempat ini sangat cocok untuk kunjungan keluarga, sekolah, maupun kegiatan komunitas. Pantai Kembar Terpadu menunjukkan bahwa alam, masyarakat, dan budaya dapat tumbuh bersama secara harmonis. Dengan komitmen terhadap konservasi, edukasi, dan pemberdayaan lokal, kawasan ini bukan hanya destinasi wisata — melainkan contoh nyata pariwisata berkelanjutan. Jika Anda ingin berpartisipasi dalam gerakan ini, datang dan saksikan bagaimana perubahan positif dimulai dari satu pantai.
5 dari 7 Jenis Penyu Dunia Pernah Mendarat di Pantai Kembar Terpadu

5 dari 7 Jenis Penyu Dunia Pernah Mendarat di Pantai Kembar Terpadu

Konservasi Pantai Kembar Terpadu tidak hanya menjadi tempat kunjungan edukasi, tetapi juga menjadi rumah sementara bagi berbagai jenis penyu laut. Dari tujuh spesies penyu yang ada di dunia dan enam di Indonesia, lima diantaranya pernah terdeteksi di kawasan Pantai Kembar. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya wilayah pesisir Kebumen sebagai habitat alami dan jalur migrasi bagi penyu-penyu yang langka dan dilindungi.
Berdasarkan catatan kami, kelima jenis penyu tersebut meliputi Penyu Belimbing yang terakhir mendarat pada tahun 2002 dengan perkiraan berat mencapai 1,5 kuintal, Penyu Hijau yang sarangnya ditemukan pada tahun 2021, Penyu Sisik pertama kali terlihat menetas di tahun 2021, serta Penyu Tempayan dan Penyu Lekang. Dari kelima jenis tersebut, tiga di antaranya kini aktif dikonservasi di kawasan Pantai Kembar Terpadu, yaitu Penyu Hijau, Penyu Sisik, dan Penyu Lekang.
Dari ketiganya, Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea) menjadi jenis yang paling sering ditemukan di wilayah pesisir Kebumen. Penyu ini juga menjadi titik awal berdirinya Konservasi Penyu Kembar Terpadu pada tahun 2020. Karena memang kondisi pesisir kebumen yang menjadi lokasi ideal bagi Penyu Lekang untuk bertelur. Sehingga sebagian besar kegiatan konservasi dan edukasi di Konservasi Kembar Terpadu berfokus pada upaya pelestarian dan perlindungan mulai dari penetasan telur, pelepasan tukik, hingga penyuluhan kepada masyarakat dan pelajar.
Upaya pelestarian ini bukan hanya tentang menjaga satu spesies, tetapi juga menjaga keseimbangan seluruh ekosistem laut. Setiap penyu yang berhasil menetas dan kembali ke laut membawa harapan baru bagi keberlanjutan kehidupan di pesisir selatan. Melalui konservasi yang dilakukan bersama masyarakat, Konservasi Kembar Terpadu terus berkomitmen menjadi ruang belajar sekaligus rumah yang aman bagi penyu-penyu yang masih setia kembali ke pasir tempat mereka dilahirkan.
Kosnervasi kembar terpadu
Konservasi Kembar Terpadu  adalah organisasi yang berada dibawah badan hukum Kelompok Tani Ngudi Mulyo yang berfokus pada kegiatan konservasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat

Copyright © 2025 konservasipantaikembartepradutambakmulyo